Pohon Apel

  nz2113br6.jpg

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

»»  read more

Nilai Seikat Kembang

kembang1yd3.jpg

"Dibalik awan hitam, Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti... Seperti pelangi setia menunggu hujan reda"

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,

"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata,

" Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit,orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu. Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny . Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolongorang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Sumber: Anynomous
»»  read more

Nak, Dimanakah Bungamu?

http://www.swissflowers.ch/backoffice/images/produit/CopyFromID_565plume45045fois_ProdId_285.jpg

Di Tiongkok kuno, ada sebuah kerajaan yang besar dan amat makmur. Negeri ini dipimpin oleh Raja tua yang adil bijaksana, seluruh rakyat sangat mencintainya. Namun sayangnya Raja tua ini tidak dikarunia seorang putra mahkota.
Suatu hari Raja tua ini berkata kepada perdana menterinya, “Saya sudah terlampau tua untuk terus memerintah.” Melihat gelagat ini, sang Perdana Menteri segera menghibur, “Baginda tidak perlu cemas, anda masih kelihatan sehat, lagipula siapa yang mampu memimpin negeri ini dengan adil dan bijaksana seperti Baginda?” Tetapi Raja tua lebih tahu kondisi dirinya sendiri tak menanggapi ucapan perdana menterinya itu. Dia lalu berkata, “Saya tidak mempunyai seorang putra mahkota untuk menggantikan saya. Oleh karena itu saya ingin mencari seorang anak yang dapat dididik untuk menjadi penggantiku.” Perdana menteri segera berkata,”Tapi Baginda….. hal itu tidaklah mudah.” Dengan tersenyum Raja tua itu mengatakan bahwa dia tahu caranya.
Keesokan harinya Raja tua meminta perdana menteri untuk mengumpulkan rakyat di istana, karena Raja ingin menyampaikan sebuah sayembara untuk mencari penerus tahtanya. Tak seberapa lama rakyat sudah berkumpul di istana, mereka sangat ingin tahu sayembara apa gerangan yang ingin disampaikan sang Raja bijak itu.
“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak-anak di seluruh negeri, satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putra mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku.”
Pagi-pagi sekali, para orang tua yang membawa anak-anaknya sudah berkumpul di lapangan istana. Mereka sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan biji bunga itu. Tepat pukul 10 pagi, setiap anak-anak bergilir naik ke podium raja untuk menerima pemberian biji bunga dari Raja tua. Masing-masing anak telah dibekali satu pot berisi tanah humus untuk ditanami biji tersebut. Setelah semua anak mendapatkan biji tersebut, Raja tua itu berkata,”Dua bulan lagi, bawalah bunga ini ke istana. Siapa yang memiliki bunga paling indah dialah pemenangnya.”
Sementara itu, hidup seorang anak yatim bernama Song jin. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibunya. Song jin adalah anak yang jujur dan rajin, semua teman-temannya menyukainya.

Setelah menerima biji bunga dari raja, dengan rajin Song jin merawat  biji bunga itu Setiap hari dia tidak pernah lupa menyiraminya. Namun dua minggu telah berlalu, tak tampak tanda-tanda biji bunga itu akan bertunas. Song jin semakin heran dan sedih ketika teman-teman di sekolahnya, membicarakan biji bunga mereka sudah mulai bertunas, bahkan mulai terlihat akan menghasilkan bunga berwarna apa. Teman sekolahnya pun menyarankan Song jin untuk lebih banyak lagi menyiram air dan memberikan sinar matahari. Sepulang sekolah, Song jin bercerita kepada ibunya tentang bibit bunga milik teman-temannya yang sudah bertunas dan mulai tampak warna bunganya. Ibu Song jin menghibur, ”Anakku, jangan sedih. Coba lihat beberapa hari lagi. Kamu begitu teliti merawatnya, kamu sudah berusaha sekuat tenaga.”
Tepat dua bulan pada hari yang telah ditentukan, tibalah saatnya pemilihan bunga yang paling indah. Anak-anak dari pelosok negeri sudah berbaris rapi di depan istana sambil membawa pot berisi bunga beraneka macam warna yang indah bentuknya. Pemandangan di depan istana hari ini sungguh menyedapkan mata.
Sang perdana menteri melihat begitu banyak bunga yang indah, bahkan hampir semuanya indah, sehingga dia berpikir bahwa Raja pasti akan kesulitan menentukan pemenangnya. Tetapi ternyata Raja tua itu tidak begitu berminat membandingkan bunga mana yang terindah, sang Raja terus berjalan mengitari anak-anak tersebut dengan sesekali bergumam.
Pada saat semua orang sedang berharap cemas menanti keputusan Raja, datanglah seorang anak dengan ditemani ibunya. Ya, dialah si Song jin, tampaknya dia datang terlambat. Saat  melintasi Song jin, tiba-tiba Raja tua  berhenti dihadapan Song jin. Dengan wajah heran Raja tua itu bertanya kepada Song jin,” Anakku, mengapa kau datang terlambat dan hanya membawa pot berisi tanah kemari?” Song jin menjawab dengan agak takut-takut, “Mohon maaf Baginda Raja, hamba terlambat karena ragu-ragu untuk menunjukkan biji bunga milik hamba yang tidak bisa bertunas dan tumbuh seperti biji bunga milik teman-teman lain. Padahal hamba sudah merawatnya setiap hari. Pada mulanya hamba berencana untuk tidak hadir. Tetapi karena dorongan ibu hamba, akhirnya hamba memutuskan untuk hadir. Karena bagaimanapun juga inilah hasil hamba selama 2 bulan ini.” Seraya menyodorkan pot berisi tanah itu kepada Raja tua.

Mendengar pengakuan polos dari Song jin, banyak orang yang menertawakannya. Namun sang Raja tua itu tersenyum puas dan berkata, “Tadi setelah melihat semua bunga-bunga ini, saya mengira bakal gagal menemukan penggantiku. Tapi ternyata sekarang, saya telah menemukannya.” Semua orang yang hadir di situ  pun menjadi heran mendengar pernyataan raja tua ini.
“Tapi..tapi bukankah Baginda Raja mengatakan akan memilih siapa yang bisa menghasilkan bunga yang paling indah?”, sahut beberapa orang tua yang ada disana.
Raja tua tertawa dan berkata,”Memang benar saya telah berkata begitu, tetapi itu hanyalah untuk menguji calon penerusku. Sesungguhnya mana bisa menentukan penerus kerajaan hanya dengan menggunakan sayembara bunga terindah seperti ini. Yang saya cari dalam kontes ini adalah kejujuran hati.”
“Lantas mengapa Baginda memilih anak itu? Apakah anak yang lain tidak jujur semua?” tanya mereka.
“Tanyakan saja kepada mereka sendiri”, sahut Raja tua sambil tersenyum. Anak-anak yang lain pun hanya menunduk memandangi bunga-bunga indah mereka. ”Sesungguhnya, biji-biji bunga itu telah terlebih dahulu saya rebus dalam kuali. Jadi mana mungkin dapat bertunas dan berbunga? Hanya Song jinlah yang benar-benar menunjukkan hasil dari biji bungaku dulu. Jadi bukankah dia anak yang paling jujur dan dapat dipercaya? Bukankah pantas, jika dia yang menjadi penerus tahta kerajaan ini?”
Para orang tua yang hadir merasa malu akan perbuatan mereka. Diam-diam mereka mengagumi kebijakan Raja tua dalam hati. Semua orang pun akhirnya bersorak gembira menyambut pewaris tahta kerajaan yang baru.
Nah adik-adik, sebagai calon pemimpin bangsa masa depan, kejujuran hati adalah hal utama yang harus dipegang teguh. Negara makmur dan sejahtera ditentukan oleh pemimpin-pemimpin yang jujur. Bukankah kita semua ingin negara kita menjadi negara yang besar dan kuat? (disadur dari cerita sekolah Minghui/The Epoch Times/mgl)

Sumber : (Erabaru.or.id)
»»  read more

Sesuatu yang harus kamu baca

http://airlanggaonlines.files.wordpress.com/2009/03/love-story-ala-gue.jpg
Tuhan yang Maha baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya.
Demikian juga Jika kamu terus menunggu  waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai.
Mulailah sekarang…
mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan  kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai
tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya. Perkawinan Bride & Groom  memang memiliki  banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan.
Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.
Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.
Harta milik  yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah….
hati seorang wanita .
Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga
Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya
Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.
Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.
Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain…
tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.
Bertemanlah Best Friends dengan orang yang suka membela kebenaran.
Dialah hiasan dikala kamu senang  dan perisai  diwaktu kamu susah.
Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman,jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.
Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya
dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya.
tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.
Begitu juga Bijaksana, Bijaksana itu seperti cairan ,
kegunaannya terletak  pada penerapan yang benar,
orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal,
sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.
Dan Bijaksana sejati tidak datang dari pikiran kita saja
tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.
Tak seorang pun sempurna.
Mereka yang mau belajar  dari kesalahan adalah bijak.
Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.
Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita
adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.
Kamu tak bisa mengubah masa lalu….
tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.
Bila Kamu mengisi hati kamu …..
dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,
Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri .
Jika kamu berpikir  tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan
dan hari esok tanpa rasa takut,
berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.
»»  read more