HIDUP UNTUK MEMBERI

http://airmien.files.wordpress.com/2009/06/sumintar-saling-memberi-223x300.jpg

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.

Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak!, dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya. Oh.. tidak! , kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?

Lalu ,Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma ”,setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.

Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.

Yang ibu ku selalu katakan “ hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta,” Apa yang kita bawa”?. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.

Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Yah.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu
Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyak ku.

"Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri "

Sumber : resensi.net
»»  read more

JUARA

http://kushinryu.files.wordpress.com/2008/09/juara.jpg

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam keempat anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobilnya yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untukberpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun Mark bangga dengan itu semua, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap empat mobil dengan empat “pembalap” kecilnya.

Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian. Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. IA tampak berkomat kamit seperti sedang berdo’a. Matanya terpejam dengan tangan menengadah memanjatkan do’a. Lalu semenit kemudian ia berkata, “ Ya, aku siap! “

DOR. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. “ Ayo, ayo…. Cepat, cepat…. Maju, maju…… “ begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.

Dan…… Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang. Begitu juga dengan Mark. IA berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati, “ Terima kasih “

Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya “ Hai jagoan, Kamu tadi pasti berdo’a kepada Tuhan agar Kamu menang bukan ? “ Mark terdiam. Lalu ia menjawab, “ Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan “ kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “ Sepertinya tak adil meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. “
“ Aku hanya memohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis jika aku kalah. “

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah suara gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.


********

Teman, anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan disbanding kita semua. Mark tidaklah memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujiannya. Mark tidak memohon pada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya.

Anak itu juga tak meminta Tuhan untuk mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdo’a untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark memohon pada Tuhan agar diberikan kekuatan saat manghadapi itu semua. Ia berdo’a agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdo’a pada Tuhan agar mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita memintapada Tuhan untuk menjadi nomor satu, menjadi yang terbaik, maupun menjadi pemenang dalam setiap ujiannya.

Tetlalu sering kita berdo’a pada Tuhan untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbinga-Nya, tuntunan-Nya dan panduan-Nya???

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa dan sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui???

Yakinlah, Tuhan memberi kita ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, dan mudah menyerah. Sesungguhnya Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh.
Jadi teman, berdo’alah agar kita selalu tegar dalam menghadapi banyak hal. Berdo’alah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin.
»»  read more

Keutamaan Zikir Kepada Allah SWT



ABUL LAITS meriwayatkan dengan sanadnya dari Syahr bin Hausyab berkata: Luqman Al-Hakiem berkata kepada puteranya: Anakku bila kamu melihat kaum yang sedang berzikir kepada Allah, maka duduklah bersama mereka, sebab bila kamu seorang pandai maka bergunalah ilmumu dan bila kamu bodoh akan mendapat pelajaran dari mereka dan kemungkinan Allah melihat mereka dengan pandangan rahmat-Nya, maka kamu mendapat bagian daripadanya. Dan bila kamu melihat kaum yang tidak berzikir maka jangan duduk bersama mereka, sebab bila kamu seorang alim maka tidak berguna ilmumu dan bila kamu bodoh niscaya akan bertambah sesat dan mungkin Allah melihat mereka dengan murka-Nya, sehingga kamu terkena juga murka Allah SWT.

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra berkata: dari Abu Saied Al-Khudri ra berkata: Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya ada malaikat yang berkeliling di bumi, maka bila bertemu dengan kaum yang berzikir segera mereka berseru: marilah, ini tujuanmu maka duduklah mereka mengerumuni majelis itu. Kemudian jika naik ke langit ditanya oleh Allah: kamu tinggalkan hamba-Ku berbuat apa? Padahal Allah lebih mengetahui keadaan mereka. Jawab mereka: Kami tinggalkan mereka bertahmid, bertasbih dan zikir kepada-Mu. Lalu ditanya: apakah yang mereka minta? Jawab mereka: surga. Ditanya: apakah mereka telah melihatnya? Jawabnya: belum. Lalu ditanya: bagaimana andaikan mereka melihatnya? Jawab mereka: Tentu lebih semangat dan sungguh-sungguh mengharapkannya. Lalu ditanya: dan apakah mereka minta perlindungan? Jawab mereka: dari neraka. Ditanya: apakah mereka telah melihatnya? Jawabnya: tidak. Maka bagaimana andaikan mereka melihatnya? Jawab mereka: tentu lebih takut dan lari daripadanya. Maka firman Allah: hai malaikat-Ku. Aku persaksikan kepadamu bahwa Aku telah mengampunkan mereka. Maka berkata malaikat: sungguh ada di antara mereka seorang yang berdosa, dia tidak berhajat ke sana, hanya datang karena suatu kepentingan. Jawab Allah: merekalah kaum yang tidak rugi siapa yang duduk dengan mereka.

Zikir, kata penyusun buku mungil “Panduan Zikir” H Hidayatullah HT, merupakan salah satu solusi mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi. Sesuai firman-Nya: “Maka berzikirlah (ingatlah) kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al-Baqarah 152).

Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda: tiada suatu kaum yang duduk di majelis zikir kepada Allah, pasti dikelilingi malaikat dan diliputi rahmat Allah dan diturunkan pada mereka ketenangan (ketentraman) dan disebut-sebut oleh Allah di depan para malaikat-Nya. (HR Muslim).

Menurut Prof Dr M Suyanto, Ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta, orang yang beriman kepada Allah, mencintai Allah, takut kepada Allah, terpaut dengan-Nya, maka orang tersebut akan banyak mengingat Allah dalam hatinya, baik mengingat Allah dengan lisan maupun anggota badannya. Hal itu didorong rasa cinta, berharap, bersandar dan bergantung kepada Allah, mengingat Allah dengan lisan dan dengan bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, beristighfar dan berdoa.
Ibu Abbas ra dalam menafsirkan mengingat Allah, yaitu jangan lepas mengingat Allah, baik di waktu malam dan siang, di daratan atau lautan, di saat bepergian atau di rumah, dalam keadaan kaya atau miskin, waktu badan sehat atau sakit dan dalam keadaan sunyi atau banyak orang.

Orang yang mengingat Allah, jelas Suyanto, mendirikan shalat dan membayar zakat akan ditambah oleh Allah karunia dan rezekinya tanpa batas. Dengan mengingat-Nya, kita akan menjadi lebih baik. Hatinya tentram. Akan diingat Allah, disebut-Nya dan bersama Dia. Dalam hadist Qudsyi, Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu kaum niscaya Aku juga akan mengingat-Nya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiku sejengkal niscaya Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta niscaya Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan niscaya Aku akan datang kepada-Nya berlari-lari kecil.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya dengan lupa mengingat Allah, kita akan termasuk orang yang merugi. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Munaafiquun ayat 9: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

~ End
»»  read more

Jangan putus asa berdoa

doatawaduk1.JPG

Doa hendaklah dibaca dengan perasaan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT.

SABAN hari umat Islam di seluruh pelosok dunia memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan harapan segala permohonan diperkenankan-Nya. Namun tidak semua doa daripada seseorang insan itu termakbul. Lantaran itu, sesetengah pihak tertanya-tanya kenapa doanya itu tidak berhasil sedangkan Allah telah berfirman:
Berdoalah kamu kepada-Ku nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. (Ghaafir: 60)
Disebabkan perasaan kecewa kerana tanggapan bahawa permohonannya itu seakan-akan tidak dimakbulkan, maka timbul perasaan putus asa. Sehingga ada yang meninggalkan amalan berdoa yang sebenarnya merupakan salah satu ibadah yang dimuliakan Allah. Nabi SAW bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibanding doa”. (Riwayat Tirmidzi)
Hakikatnya, Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Adil dan Dia sentiasa mengotakan janji-janji-Nya. Namun hamba-hamba-Nya adakalanya gagal untuk memahami hikmah di sebalik segala keputusan Allah. Kita merasakan apa yang dipinta daripada-Nya itu merupakan yang terbaik untuk diri kita sedangkan Allah lebih mengetahui segala-galanya dan setiap keputusan-Nya itu memiliki hikmah yang adakalanya tidak disedari oleh seseorang insan.

Ada ketikanya apabila Allah tidak memperkenankan sesuatu permintaan hamba-Nya disebabkan kerana Allah ingin memberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dipinta.
Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan sebuah doa yang tidak berisi dosa dan permintaan untuk memutuskan silaturahim melainkan Allah akan mengurniakan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan segera memakbulkan doanya atau Allah akan menyimpan doanya sebagai pahala di akhirat atau Allah akan menghindarkan dirinya dari keburukan semisalnya. Mereka berkata: Kalau begitu kami harus memperbanyakan berdoa. Nabi bersabda: Apa yang Allah kurniakan kepada kalian lebih banyak dari yang kalian minta”. (Riwayat Imam Ahmad)
Begitulah resam seorang insan yang selalu lupa tentang apa yang telah dikurniakan Allah yang hakikatnya lebih banyak berbanding permintaannya yang dianggapnya tidak dimakbulkan itu. Malah menerusi hadis di atas dapat kita fahami bahawa ada waktunya Allah menggantikan apa yang dipinta oleh hamba-hamba-Nya itu dengan menghindarkan diri mereka dari ditimpa kemalangan ataupun apa-apa jua bentuk musibah.
Ada ketikanya Allah menangguhkan untuk memperkenankan sesuatu permintaan dan dikurniakan sebagai ganti berupa ganjaran pahala di akhirat yang tentu sekali akan lebih memberi manfaat yang besar kepada hamba-hamba-Nya.
Insan tetap insan yang sebagaimana telah kita semua sedia maklum terbelenggu dengan pelbagai kelemahan. Kenapa tatkala merasakan Allah seperti tidak memperkenankan doa-doanya, seseorang insan itu tidak terlebih dahulu melihat kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin Allah ingin menjawab permintaannya itu sekiranya seseorang itu sentiasa bergelumang dengan perbuatan maksiat serta meninggalkan segala kewajipan yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah SAW:
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu harus mengerjakan segala yang baik (makruf) dan meninggalkan segala yang keji (mungkar), atau jika tidak Allah pasti akan menurunkan seksa ke atas kalian, nanti bila kalian berdoa tidak akan dimakbulkan”. (Riwayat Tirmidzi)
Tidak dapat dinafikan kelalaian seseorang dalam menurut perintah Allah dan juga tewasnya seseorang dengan godaan hawa nafsu merupakan penyebab utama terhalangnya kurniaan kebaikan (seperti mudah termakbulnya doa) daripada Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Firman-Nya:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkan-Nya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripada-Nya. (al-Ra’du: 11)

Mana mungkin Allah SWT akan memperkenankan sesuatu permohonan jika hamba-hamba-Nya tidak mempedulikan perkara halal dan haram dari segi sumber rezeki, pemakanan dan pakaian-pakaiannya dalam kehidupan seharian. Firman Allah:
Wahai Rasul-rasul, makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal soleh; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan. (al-Mukminun: 51).
Dan Dia berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah Kami berikan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepadanya. (al-Baqarah:172).
Kemudian Baginda menyebutkan tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan panjang, rambutnya kusut dan berdebu. Dia berdoa sambil menadahkan tangannya ke langit, dia berucap: Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya dimakbulkan. (Riwayat Imam Muslim)
Sikap terburu-buru sesetengah insan dalam meminta doanya agar dimakbulkan segera sehinggakan wujud perasaan putus asa apabila permintaan tersebut tidak tercapai merupakan antara faktor yang menyebabkan terhalangnya doa itu diterima oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: Akan dimakbulkan doa salah seorang di antara kamu selagi dia tidak terburu-buru lalu dia mengatakan: Aku sudah berdoa namun tidak dimakbulkan bagiku. (Riwayat Imam al-Bukhari)
Sewajarnya setiap insan tidak putus harapan dalam berdoa dan tetap memperbanyakkan amalan berdoa. Keyakinan bahawa Allah SWT akan memperkenankan doa hamba-hamba-Nya juga merupakan faktor yang dapat mempermudahkan termakbulnya doa.
Sekiranya doa itu diyakini sebagai ibadah maka hendaklah kita menghadapkan doa itu ikhlas hanya kepada Allah SWT tanpa sebarang perantaraan yang bertentangan dengan syarak dan tatacara berdoa itu juga hendaklah bersesuaian dengan sunah Rasulullah agar ia diterima oleh Allah SWT. Doa itu hendaklah dibaca dengan perasaan penuh rendah diri di hadapan Allah dan dengan suara yang perlahan. Firman-Nya:

Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. (al-A’raaf: 55)
Justeru, hendaklah setiap insan melazimkan diri mereka dengan berdoa. Pada masa yang sama hendaklah setiap insan itu juga berusaha untuk memperbaiki kekurangan diri dalam menurut segala perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya agar ia dapat memudahkan termakbulnya doa.
»»  read more