Nak, Dimanakah Bungamu?

http://www.swissflowers.ch/backoffice/images/produit/CopyFromID_565plume45045fois_ProdId_285.jpg

Di Tiongkok kuno, ada sebuah kerajaan yang besar dan amat makmur. Negeri ini dipimpin oleh Raja tua yang adil bijaksana, seluruh rakyat sangat mencintainya. Namun sayangnya Raja tua ini tidak dikarunia seorang putra mahkota.
Suatu hari Raja tua ini berkata kepada perdana menterinya, “Saya sudah terlampau tua untuk terus memerintah.” Melihat gelagat ini, sang Perdana Menteri segera menghibur, “Baginda tidak perlu cemas, anda masih kelihatan sehat, lagipula siapa yang mampu memimpin negeri ini dengan adil dan bijaksana seperti Baginda?” Tetapi Raja tua lebih tahu kondisi dirinya sendiri tak menanggapi ucapan perdana menterinya itu. Dia lalu berkata, “Saya tidak mempunyai seorang putra mahkota untuk menggantikan saya. Oleh karena itu saya ingin mencari seorang anak yang dapat dididik untuk menjadi penggantiku.” Perdana menteri segera berkata,”Tapi Baginda….. hal itu tidaklah mudah.” Dengan tersenyum Raja tua itu mengatakan bahwa dia tahu caranya.
Keesokan harinya Raja tua meminta perdana menteri untuk mengumpulkan rakyat di istana, karena Raja ingin menyampaikan sebuah sayembara untuk mencari penerus tahtanya. Tak seberapa lama rakyat sudah berkumpul di istana, mereka sangat ingin tahu sayembara apa gerangan yang ingin disampaikan sang Raja bijak itu.
“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak-anak di seluruh negeri, satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putra mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku.”
Pagi-pagi sekali, para orang tua yang membawa anak-anaknya sudah berkumpul di lapangan istana. Mereka sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan biji bunga itu. Tepat pukul 10 pagi, setiap anak-anak bergilir naik ke podium raja untuk menerima pemberian biji bunga dari Raja tua. Masing-masing anak telah dibekali satu pot berisi tanah humus untuk ditanami biji tersebut. Setelah semua anak mendapatkan biji tersebut, Raja tua itu berkata,”Dua bulan lagi, bawalah bunga ini ke istana. Siapa yang memiliki bunga paling indah dialah pemenangnya.”
Sementara itu, hidup seorang anak yatim bernama Song jin. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibunya. Song jin adalah anak yang jujur dan rajin, semua teman-temannya menyukainya.

Setelah menerima biji bunga dari raja, dengan rajin Song jin merawat  biji bunga itu Setiap hari dia tidak pernah lupa menyiraminya. Namun dua minggu telah berlalu, tak tampak tanda-tanda biji bunga itu akan bertunas. Song jin semakin heran dan sedih ketika teman-teman di sekolahnya, membicarakan biji bunga mereka sudah mulai bertunas, bahkan mulai terlihat akan menghasilkan bunga berwarna apa. Teman sekolahnya pun menyarankan Song jin untuk lebih banyak lagi menyiram air dan memberikan sinar matahari. Sepulang sekolah, Song jin bercerita kepada ibunya tentang bibit bunga milik teman-temannya yang sudah bertunas dan mulai tampak warna bunganya. Ibu Song jin menghibur, ”Anakku, jangan sedih. Coba lihat beberapa hari lagi. Kamu begitu teliti merawatnya, kamu sudah berusaha sekuat tenaga.”
Tepat dua bulan pada hari yang telah ditentukan, tibalah saatnya pemilihan bunga yang paling indah. Anak-anak dari pelosok negeri sudah berbaris rapi di depan istana sambil membawa pot berisi bunga beraneka macam warna yang indah bentuknya. Pemandangan di depan istana hari ini sungguh menyedapkan mata.
Sang perdana menteri melihat begitu banyak bunga yang indah, bahkan hampir semuanya indah, sehingga dia berpikir bahwa Raja pasti akan kesulitan menentukan pemenangnya. Tetapi ternyata Raja tua itu tidak begitu berminat membandingkan bunga mana yang terindah, sang Raja terus berjalan mengitari anak-anak tersebut dengan sesekali bergumam.
Pada saat semua orang sedang berharap cemas menanti keputusan Raja, datanglah seorang anak dengan ditemani ibunya. Ya, dialah si Song jin, tampaknya dia datang terlambat. Saat  melintasi Song jin, tiba-tiba Raja tua  berhenti dihadapan Song jin. Dengan wajah heran Raja tua itu bertanya kepada Song jin,” Anakku, mengapa kau datang terlambat dan hanya membawa pot berisi tanah kemari?” Song jin menjawab dengan agak takut-takut, “Mohon maaf Baginda Raja, hamba terlambat karena ragu-ragu untuk menunjukkan biji bunga milik hamba yang tidak bisa bertunas dan tumbuh seperti biji bunga milik teman-teman lain. Padahal hamba sudah merawatnya setiap hari. Pada mulanya hamba berencana untuk tidak hadir. Tetapi karena dorongan ibu hamba, akhirnya hamba memutuskan untuk hadir. Karena bagaimanapun juga inilah hasil hamba selama 2 bulan ini.” Seraya menyodorkan pot berisi tanah itu kepada Raja tua.

Mendengar pengakuan polos dari Song jin, banyak orang yang menertawakannya. Namun sang Raja tua itu tersenyum puas dan berkata, “Tadi setelah melihat semua bunga-bunga ini, saya mengira bakal gagal menemukan penggantiku. Tapi ternyata sekarang, saya telah menemukannya.” Semua orang yang hadir di situ  pun menjadi heran mendengar pernyataan raja tua ini.
“Tapi..tapi bukankah Baginda Raja mengatakan akan memilih siapa yang bisa menghasilkan bunga yang paling indah?”, sahut beberapa orang tua yang ada disana.
Raja tua tertawa dan berkata,”Memang benar saya telah berkata begitu, tetapi itu hanyalah untuk menguji calon penerusku. Sesungguhnya mana bisa menentukan penerus kerajaan hanya dengan menggunakan sayembara bunga terindah seperti ini. Yang saya cari dalam kontes ini adalah kejujuran hati.”
“Lantas mengapa Baginda memilih anak itu? Apakah anak yang lain tidak jujur semua?” tanya mereka.
“Tanyakan saja kepada mereka sendiri”, sahut Raja tua sambil tersenyum. Anak-anak yang lain pun hanya menunduk memandangi bunga-bunga indah mereka. ”Sesungguhnya, biji-biji bunga itu telah terlebih dahulu saya rebus dalam kuali. Jadi mana mungkin dapat bertunas dan berbunga? Hanya Song jinlah yang benar-benar menunjukkan hasil dari biji bungaku dulu. Jadi bukankah dia anak yang paling jujur dan dapat dipercaya? Bukankah pantas, jika dia yang menjadi penerus tahta kerajaan ini?”
Para orang tua yang hadir merasa malu akan perbuatan mereka. Diam-diam mereka mengagumi kebijakan Raja tua dalam hati. Semua orang pun akhirnya bersorak gembira menyambut pewaris tahta kerajaan yang baru.
Nah adik-adik, sebagai calon pemimpin bangsa masa depan, kejujuran hati adalah hal utama yang harus dipegang teguh. Negara makmur dan sejahtera ditentukan oleh pemimpin-pemimpin yang jujur. Bukankah kita semua ingin negara kita menjadi negara yang besar dan kuat? (disadur dari cerita sekolah Minghui/The Epoch Times/mgl)

Sumber : (Erabaru.or.id)

0 komentar:

Posting Komentar